Sabtu, 14 Juni 2014

COWOK - COWOK XII IPA 2




OZII 
Posisi Bangku : 
Strategis deket jendela 
Kegemaran    : 
Stand Up Comedy 
Deskripsi Singkat :
cowok region singosari , anak bu bidan , alim dan gokil.


YUDI
Posisi Bangku :
Pindah2 sesuai sikon
Kegemaran :
Fudsal Never Die
Deskripsi Singkat :
cowok PRIMUS (pria musuk) , super frontal, banyak bicara.

 ZOGA
Posisi Bangku :
Temen sebangku Yudi
Kegemaran :
Fudsal is My Life
Deskripsi Singkat :
cowok berdarah tumang, agresif yang tinggi , liar dan berbahaya . 
                                                

Ponco ( RIO / LeO_BOY ) 
Posisi Bangku :
Depan Meja Guru
Kegemaran :
Mengaji ODOJ
Deskripsi Singkat :
@hario_45 cowok gahar region bayundono, strong man, DA dan Paskib sbg rutinitas yg digelutinya dan cerdas Amiin.





Galang
Posisi Bangku :
Teman Sebangku OZZIEY
Kegemaran :
Ikut Baris Berbaris(PASKIBRA)
Deskripsi Singkat :
@15galang cowok feminim yg ikut Paskib + PKS , region banyudono, suka duduk dipojokkan , ngipet pas pljrn .

SEMANGAT MENGGUGAH JIWA



KATA SEMANGAT ID
Ya Alloh, terima kasih atas segala nikmatMu hari ini, dan segala cobaan yg telah mengajarkanku untuk semakin bijak dan dewasa.

Kegagalan membuatmu lebih siap. Kesalahan membuatmu lebihmemahami. Dan percaya kepada Alloh, membuat hidupq lebih tenang.

Setiap prestasi selalu dimulai dari keberanian untuk mencoba. Jangan takut gagal, karenaitu adlh jalan terbaik menuju keberhasilan.

Berusaha semaksimal mungkin, karena kita tdk pernah tahu keajaiban apa yg akan terjadi pada orang2 yg berupaya dgn sungguh2. Semangat Pagi !

Bermimpilah akan sesuatu dan jadikanlah mimpimu itu kenyataan , sesungguhnya tak akan ada dunia ini jika tak ada yang bermimpi.

Tetap belajar memperbaiki diri dan mencoba lagi setelah gagal, seperti itulah sifat seorang calon pemenang sejati. Semangat Pagi !

Hanya karena kita tdk melihat udara, bkn berarti kita berhenti bernapas. Hnya karena kita tdk melihat Alloh, bkan berarti kita berhenti percaya.

Kita tidak wajib belajar. Kita hanya butuh belajar !

Pertama – tama katakan pada dirimu sendiri kau ingin jadi apa, lalu lakukan apa yg harus kau lakukan.

Aku tak akan menyerah walau hari ini ternyata aku kalah. Gagal bukanlah menu sehari2ku.

Kegagalan yg sebenarnya bukanlah saat kau terjatuh, tapi saat kau menyerah dan tak mau bangkit kembali setelah kau terjatuh. Semangat Pagi !

Belajarlah untuk bersabar dlm segala hal, namun yg terpenting adlh bersabar dgn dirimu sendiri.
Dalam hidup, kita harus membuat suatau pilihan. Diam pun juga merupakan sebuah pilihan.

Kadang Alloh tidak memberikan apa yg kau minta, bukan karena kau tdk pantas, tapi karena kau layakmenfapatkan yg lenih baik.

Jangan putus asa saat kau berhadapan dgn kegagalan, karena sangat mungkin keberhasilan akan datang pada usahamu berikutnya.



Jumat, 29 November 2013

Puisi Jum'at malam



MEMBACA TANDA-TANDA
Puisi Taufiq Ismail

Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas
dari tangan
dan meluncur lewat sela-sela jari kita
Ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kita mulai merindukannya
Kita saksikan udara
abu-abu warbanya
Kita saksikan air danau
yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil
tak lagi berkicau pagi hari
Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan
Kita saksikan zat asam
didesak asam arang
dan karbon dioksida itu
mengigilas paru-paru
Kita saksikan
Gunung membawa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir membawa air
Air
Mata
Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda
Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalau api dan hama
Kami telah dihujani abu dan batu 
Allah
Ampuni dosa-dosa kami
Beri kami kearifan membaca
Seribu tanda-tanda
Karena ada sesuatu yang rasanya
mulai lepas dari tangan
akan meluncur lewat sela-sela jari
Karena ada sesuatu yang mulanya
tak begitu jelas
tapi kini kami
mulai
merindukannya


PADAMU JUA
Amir Hamzah

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulau perlahan
Sabar,
Setia selalu
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu rupa
Dimana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku, gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik ingin
Serupa dara menarik tirai
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu – bukan giliranku
Mata hari – bukan kawanku



MENUJU KE LAUT
Puisi Sutan Takdir Alisjahbana

Kami telah meninggalkan engkau, Tasik yang tenang tiada beriak, diteduhi gunung yang rimbun, dari angin dan topan. Sebab sekali kami terbangun, dari mimpi yang nikmat. Ombak riak berkejar-kejaran di gelanggang biru di tepi langit. Pasir rata berulang di kecup, tebing curam ditentang diserang, dalam bergurau bersama angin, dalam berlomba bersama mega.
Sejak itu jiwa gelisah Selalu berjuang tiada reda. Ketenagan lama serasa beku, gunung pelindung rasa pengalang. Berontak hati hendak bebas, menyerang segala apa mengadang.
Gemuruh berderau kami jatuh, terhempas berderai mutiara bercahaya. Gegap gempita suara mengerang, Dahsyat bahna suara menang. Keluh dan gelak silih berganti, pekik dan tempik sambut menyambut.
Tetapi betapa sukanya jalan, bedana terhembas, kepala tertumbuk, hati hancur, pikiran kusut, namun kembali tiada ingin namun kembali diada angin, ketenangan lama tiada diratap.
Kami telah meninggalkan engkau, Tasik yang tenang tiada beriak, diteduhi gunung yang rimbun, dari angin dan topan. Sebab sekali kami terbangun, dari mimpi yang nikmat


SURAT DARI IBU
Puisi Asrul Sani

Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke hidup bebas !
Selama angin masih angin guritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau
Pergi kelaut lepas, anakku sayang
pergi kealam bebas !
Selama hari belum petang
dan warna senja belum kemerah-merahan
denutup pintu waktu lampau
Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang kesarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nahkoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku !
Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam !
Jika kapalmu telah rapat ketepi
Kita akan bercerita
”Tentang cinta dan hidupmu pagi hari”

  

MASIH ADA DOA
Puisi Mustofa W. Hasyim

Masih ada doa
yang diucapkan sambil menangis
tetapi orang-orang melihat
dan mendengarnya sebagai gerak
dan suara tertawa
Masih ada doa
yang bermata air dari keprihatinan
dari kemarahan, dari ketidakmengertian
tetapi orang-orang menangkapnya
sebagai keramahan dan kelemahan
Masih ada doa
yang berproses bersama luka, bersama kelelahan,
bersama penindasan, penghinaan, penyerimpungan
dan penghadangan
tetapi orang-orang mersakannya
sebagai kenikmatan dan kesyukuran
Masih ada doa
yang pahit karena berakar pada keikhlasan
melihat kekonyolan, pertarungan, perebutan jabatan,
perebutan harta, perebutan kesempatan
perlombaan mengibarkan nama, dan
kebuntuan-kebuntuan langkah
dari jiwa-jiwa kerdil,
tetapi orang-orang menganggapnya
sebagai hujan madu
yang harus dijilat ramai-ramai
Masih ada doa
yang lahir dari luka
tapi orang-orang menghayatinya
sebagai pesta
Masih ada doa
yang matang bersama kekhawatiran
dan kecemasan atas zaman yang
dipadati oleh virus-virus jiwa,
tetapi orang-orang menyebutnya
dengan bertepuk tangan gembira.
Masih ada doa-doa panjang
dari jiwamu yang pasrah
tetapi orang-orang tak memahami
makna-maknanya.



GADIS PEMINTA-MINTA
Oleh: Toto Sudarto Bachtiar

setiap kali bertemu, gadis kecil berkaleng kecil senyummu terlalu kekal untuk kenal duka sengadah padaku, pada bulan merah jambu tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan gembira dari kemayaan riang
duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal jiwa begitu murni, terlalu murni untuk bisa membagi dukaku
kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil bulan di atas itu, tak ada yang punya dan kotaku, ah kotaku hidupnya tak lagi punya tanda



GUGUR
Puisi. W.S. Rendra

Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak.
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya.
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya.
Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
Menatap musuh pergi dari kotanya.
Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
diantaranya anaknya .
Ia menolak
dan tetap merangkak
Menuju kota kesayangannya.
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya.
Belum lagi selusin tindak
Mau tpun menghadangnya
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata:
”Yang berasal dari tanah
kembali repah pada tanah.
Dan akupun berasal dari tanah:
tanah Ambarawa yang kucinta.
Kita bukanlah anak jadah
kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah jiwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang”.
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa.
Orang tua itu kembali berkata:
”Lihatlah, hari telah fajar!
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan
buat selama-lamanya!
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menancapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun akan berkata:
- Alangkah gemburnya tanah di sini!”
Haripun lengkap malam
Ketika ia menutup matanya



PERJALANAN KUBUR
Puisi Sutardji Calzoum Bachri

Luka ngucap dalam badan
Kau telah membawaku ke atas bukit
Ke atas karang ke atas gunung
Ke bintang-bintang
Lalat-lalat menggali perigi dalam dagingku
Untuk kuburmu alina
Untuk kuburmu alina
Aku menggali-gali dalam diri
Raja darah dalam darah mengaliri sungai-sungai mengibarkan bendera hitam
Menyeka matari membujuk bulan
Teguk tangismu alina
Sungai pergi ke laut membawa kubur-kubur
Laut pergi ke laut membawa kubur-kubur
Awan pergi ke hujan membawa kubur-kubur
Hujan pergi ke akar ke pohon ke bunga-bunga
Membawa kuburmu alina

#Thanks to Allah SWT